13 Jul 2020, 14:09 WIB | Berita Daerah, Headline

Inovatif! Pengusaha Tahu Ubah Limbah Tahu Jadi Biogas

Tahu merupakan makanan yang terbuat dari kacang kedelai dan menjadi makanan favorit seluruh masyarakat Indonesia. Mengolah tahu ternyata bisa dijadikan mata pencaharian yang menjanjikan.
Selain mendapatkan keuntungan finansial, dampak lain yang ditimbulkan adalah limbah yang berasal dari proses pembuatan tahu. Sebagian besar limbah tahu dibuang begitu saja tanpa adanya proses pengolahan, sehingga bisa mencemari lingkungan.

Hal inilah yang mendorong seorang pengusaha tahu bernama Haryadi untuk mengolah limbah tahu menjadi kebutuhan rumah tangga.

Inovasi yang dilakukan Haryadi berbuah manis dengan mengubah limbah produksi tahu miliknya menjadi biogas untuk kebutuhan rumah tangga di Desa Kumpul Rejo, Dusun 3 Kecamatan Buay Madang Timur, Kabupaten OKU Timur. Senin (13/07/2020)

Limbah tahu mengandung begitu banyak senyawa organik, seperti lemak, karbohidrat, dan protein. Limbah cair ini juga mengandung tingkat keasaman Chemical Oxygen demand (COD) dan Biological Oxygen Demand (BOD) yang tinggi. Kandungan senyawa ini akan mencemari lingkungan dan menurunkan kualitas air. Dampak yang terlihat jelas, salah satunya menimbulkan bau tidak sedap.

“Sejak saat itu saya mulai terpikir untuk membangun instalasi pengolahan air limbah produksi tahu,” kata Haryadi di pabrik tahu miliknya. Haryadi mendapat bimbingan dari Bidang Pencemaran dan Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di tempat dia bekerja.

Selain itu, ia juga mendapatkan bantuan dari Kementerian Lingkungan Hidup melalui Dinas Lingkungan Hidup, berupa tengki dalam tanah, serta instalasi pembuangan limbah yang telah di olah dengan biogas yang dihasilkan dari limbah tahu.

“Biasanya dalam satu bulan bisa menghabiskan dua tabung gas 3 Kg untuk memasak air dan memasak makanan untuk kebutuhan sehari-hari, kini cukup menggunakan biogas hasil limbah tahu,” ungkapnya.

Limbah tahu mengandung gas metana (CH4), amonia (NH3), hydrogen sulfide (H2S), dan karbondioksida (CO2). Butuh waktu dan beberapa proses agar gas ini dapat dimanfaatkan.

Terpisah Kepala Dinas Lingkungan Hidup, Fauzie Bakri, saat ditemui dia mengatakan, instalasi pengolahan limbah mampu menampung 8.000 liter air limbah tahu. Limbah itu dialirkan ke tangki penampungan yang ada di bawah sedalam tiga meter, yang ditutup dengan beton.

”Limbah difermentasi selama satu hingga dua minggu untuk menghasilkan gas metana. Paling bagus itu satu bulan, tapi bergantung pemakaiannya juga,” kata Fauzie.

Setelah gas metana dihasilkan, gas dialirkan melalui pipa yang sudah tersambung dengan selang kompor di dapur untuk masak. Setelah keran gas dibuka, api akan muncul saat dipancing dengan korek.

“Api yang keluar dari kompor memang tidak stabil seperti gas LPG, tapi ketika dipakai untuk memasak, suhu panasnya tidak kalah unggul,” jelasnya.

Dia menambahkan, saat pemakaian biogas ini hampir tidak mencium aroma apa pun dari gas. Namun, lama kelamaan akan terasa bau gas, tapi tidak terlalu menyengat. Cara ini dirasa tidak berbahaya, meskipun di bawah tanah yang dipijaknya ada gas dengan tekanan tinggi. Jika gas dalam keadaan lemah atau habis, tangki akan dibuka dan ampasnya akan digunakan untuk pakan ternak.

“Pengelolahan Limbah tahu menjadi Bio Gas di Desa Kumpul Rejo ini akan menjadi contoh bagi pabrik tahu lainnya dalam pengelolahan limbah, sehingga limbah yang di hasilkan tidak mencenari lingkungan dan dapat bermanfaat bagi manusia dengan Jika gas dalam keadaan lemah atau habis, tangki akan dibuka dan ampasnya akan digunakan untuk pakan ternak.

“Pengelolahan limbah tahu menjadi biogas yang digunakan di Desa Kumpul Rejo saat ini akan menjadi contoh bagi pabrik tahu lainnya dalam mengelola limbah tahu miliknya. Sehingga limbah yang dihasilkan tidak mencenari lingkungan dan dapat bermanfaat bagi manusia dengan diubah menjadi bio gas untuk kebutuhan rumah tangga,” tutupnya.

Repoter diskominfo Joni Ariandi

Nomor Penting

Pemda :(0735)481035
Polres :(0735)481613
Pemadam Kebakaran :(0735)481113
BPBD :(0735)481832
PLN :(0735)481874
RSUD Martapura:(0735)481004
RSUD Belitang:(0735)451815