21 Jan 2015, 9:19 WIB | Serba-serbi

Sejarah Marga Buay Pemuka Peliung

Menurut penyelidikan Ketua Dewan Marga Buay Pemuka Peliung (waktu itu Pangeran Haji Abdul Hamid ) bahwa moyang Marga Buay Pemuka Peliung berasal dari daerah Skala Berak(Krui)yaitu keturunan dari Umpu jadi yang dikenal di Marga Buay Pemuka Peliung Si Jadi Helau.
Dengan keputusan Dewan Marga Buay Pemuka Peliung awal Tahun 1932 saya diutus pergi ke Daerah  Skala Berak untuk menyelidiki dari dekat asal usul keturunan Marga Buay Pemuka Peliung. Teman saya dalam perjalanan ialah saudara Rejab gelar Alamlah yang waktu itu Kepala Sekolah Desa Bantan Marga Buay Pemuka Peliung (dalam  perjalanan itu ditetapkan Marga sebagai Sekertaris).
Tempat-tempat yang harus kami kunjungi yaitu:
1.Pasirah Marga Kenali.
2.Pasirah Marga Batu Berak
3.Pasirah Marga Sukau
4.Pasirah Banding Agung
5.Pasirah Marga Aji (Muara Dua)
6.Pasirah Marga Belambangan Umpu (Kota bumi)
Berangkat dari Pulau Negara mula-mula kami menuju Kenali sebab itu yang paling jauh (hanya beberapa kilometer dari Gunung Pesagi). Baru berapa kilometer dari Gunung Raya (Kebun Teh) turun hujan yang sangat lebat,sehingga sampai di Pasar Sukanegeri Liwa kami tidak dapat keluar dari mobil.Kebetulan mobil yang kami tumpangi mau terus ke Krui.Besoknya kami kembali ke Suka negeri Liwa di antarkan mobil sampai tepian Sungai Semangka. Dari sini kami berjalan kaki kira-kira 5 kilometer menuju Kenali (waktu itu Sungai Semangka belum ada jembatan yang menghubungkan Suka negeri Liwa dengan Kenali).
Dari Sungai Semangka sampai Dusun Kenali jalan terasa selalu menanjak, badan berangsur terasa dingin ujung jari tangan sudah mengerut seperti kita lama berendam di air atau lama kena hujan. Rumah kenali besar-besar. sebagian besar sudah genteng bercampur ijuk, istimewa rumah kediaman Pangeran Kenali semua ramuannya besar-besar tiangnya berdiri di atas batu yang disusun besarnya lebih dari sepemeluk orang dewasa seluruh atapnya dari ijuk di sana-sini sudah di tumbuhi lumut yang tidak memungkinkan di tembus air hujan juga sudah banyak di tumbuhi pakis yang menambah seramnya rumah itu.
Setelah kami masuk di rumah itu betul-betul kami merasa heran, memperhatikan besarnya puting-puting alang-alang panjang dan alang-alang pendeknya yang tidak mungkin di tarik oleh kerbau.Sebagai perhiasan ruamah itu di sana-sini banyak kelihatan ukiran-ukiran yang sudah sangat tua di pelihara dengan baik sama tengah dinding rumah itu disebelah luar dipasang sekeping papan yang berukir.
Tangga rumah itu bertingkat dua, di tengah-tengah ada peralatan itupun menjadi perhatian kami. Segala keganjilan rumah itu saya tanyakan kepada Pangeran Kenali. Menurut beliau ketika mengumpulkan ramuan rumah itu dilakukan oleh Bujang Gadis dari Antero Marga dengan membawa perbekalan sendiri sampai dua tiga bulan.
Beratus-ratus bujang menarik kayu-kayu itu dari hutan serta gadis-gadis menyediakan makanan untuk orang banyak itu.Apabila persiapan makanan sudah habis diganti oleh rombongan lain, sehingga ramuan rumah itu telah cukup baru berhenti. Tangga yang bertingkat seperti tangga rumah itu bernama “Tangga Usup-usup” khusus bagi Rumah Raja-Raja waktu itu papan berukir yang di pasang di tengah-tengah dinding rumah itu bernama “Bebat Ati” juga untuk rumah-rumah Raja.
Menurut kabar bahwa di rumah itu ada sebuah gong (Tawak-Tawak) emas peninggalan Moyang, itupun saya tanyakan kepada beliau. Menurut sejarah yang disimpan oleh Pangeran Kenali kisah gong itu demikian : Pada suatu hari Moyang Marga Kenali (Umpu Belunguh ) pergi memancing di tepi sungai sekitar Dusun Kenali.Sedang asyiknya beliau memancing itu tiba-tiba beliau mendengar bunyi gamelan yang sangat hebat serta sorak sorai di dalam tanah dibawah tempat beliau duduk memancing itu. Pancing itu dilepaskan beliau, terus beliau terjun ke dalam air hendak menyaksikan bunyi gamelan tadi. Demi beliau meneyelam dilihatnya dibawah tempat beliau duduk memancing itu ada gua yang sangat luas disitulah datangnya bunyi-bunyian tadi, serta di lihatnya laki-laki perempuan telanjang bulat sedang bersuka ria memakai gamelan dengan menari-nari. Baru saja mereka melihat Moyang tadi, mereka pontang panting lari dan semua gamelan itu tinggal. Oleh Moyang diambilnya sebuah gong dibawanya keluar dari gua tadi, diletakkan diatas tebing tempatnya duduk memancing itu. Setelah ia kembali lagi ditempat gamelan banyak itu diambilnya sebuah lagi gong yaitu pasangan gong yang mula-mula tadi. Sesampainya diatas dilihatnya gong yang pertama tadi tidak ada lagi, diserobot oleh mahluk ajaib tadi. Oleh sebab itu Moyang itu tidak menyelam lagi kuatir apabila beliau meninggalkan tempat itu gong itupun kena serobot pula. Gong inilah yang sampai dibawa beliau pulang dan itulah yang ada dirumah Pangeran Kenali waktu kami datang Tahun 1932  itu.
Pada masa dahulu sekitar dua tiga puluh tahun dari kejadian diatas ini, gong yang kena serobot itu telah dua kali masuk mimpi penduduk Dusun Kenali. Pertama gong itu harus diambil diatas cabang kayu di pinggir sungai sekitar tempat Moyang mendapatkannya dulu, sesampai orang tadi melihat seekor kura-kura yang sangat besar pada tempat yang dilihatnya dalam mimpinya itu. Berhubung orang itu takut hendak menangkap kura-kura itu takut digigitnya lalu diambilkannya kayu untuk menarik ke bawah kura-kura itu. Baru saja kayu tadi mengenai badan kura-kura itu, kura-kura itu jatuh ke dalam air sambil berbunyi seperti bunyi gong. kedua kali dan terakhir masuk pula dalam dalam mimpi penduduk bahwa pajar-pajar gong itu harus diambil dipinggir sungai. Setelah orang yang bermimpi itu bangun, segera ia pergi ke tempat yang di tunjukan dalam mimpi itu. sampai di situ dilihatnya ular sawah yang sangat besar sedang melingkar. Orang tadi buru-buru kembali mengajak kawan.Setelah kembali lagi ketempat ular tadi dilihatnya ular itu telah hilang meninggalkan bekas ditanah tempatnya lingkaran tepi tawak-tawak itu, semenjak itu tawak-tawak emas itu tidak pernah lagi dimimpikan orang.
Kami dianjurkan oleh Pangeran Kenali supaya bermalam dulu barang 2 atau 3 malam di rumah beliau untuk melihat-lihat barang pusaka dari moyang beliau yang disimpan di bawah rumah dan diatas pagu (loteng) rumah itu. serta beliau hendak menunjukan bekas Moyang duduk-duduk diatas batu dengan membawa seekor ayam pada sebuah bukit yang tidak berapa jauh dari dusun kenali, bekas pantat Moyang itu sampai sekarang masih kelihatan lekok dan bekas jari-jari ayam beliau masih kelihatan pula. Kemudian akan menunjukan tempat moyang dulu melakukan hukuman bunuh kepada yang bersalah tempatnya agak ke tenggara dari dusun Kenali.
Berhubung kami berdua (saya dan Guru Rejab merasa sangat dingin, kami perhatikan gumpalan awan yang memutih dilereng-lereng bukit sekitar dusun Kenali sama tingginya dengan dusun tersebut, apa lagi tempat yang harus kami datangi masih banyak dari itu kapada Pangeran kenali kami pamitan untuk menuju Batuberak.
Sampai di Batuberak kira-kira jam 4 petang, hari itu juga kedatangan kami disambut oleh Bapak Pangeran Haji Habiburrahman yang lebih dari 80 Tahun kelihatan masih gagah, beliau adalah nenek dari Pasirah Marga Batuberak yang bernama Suhaimi gelar Sutan Lela Muda (terakhir pensiunan Bupati Tanjung Karang)1969.
Setela saya uraikan maksud kedatangan kami serta menunjukan surat keterangan yang kami bawa dari Pulau Negara beliau sangat gembira. Kepada seisi rumah beliau menyatakan bahwa kami berdua seolah-olah saudara Muda yang berpisah dengan saudara tua, tiba-tiba datang dengan diduga-duga serta diumumkan pada penduduk dusun Batuberak.Semenjak waktu kedatangan kami mau berangkat tidak putus-putusnya orang datang seolah-olah mengelu-elukan kami.
Ketika hendak makan  malam Pembarab, Ketib, Penghulu, Penggawa dusun itu serta orang tua-tua diajak makan bersama kami, sehingga merupakan satu keluarga besar, begitu juga pada waktu makan siang besok harinya. Sebelum makan siang kami berdua dibawa  berziarah ke makam Moyang Umpu Jadi yang letaknya di sebelah darat dusun Batuberak setelah selesai berziarah barulah bapak Pangeran Haji Habiburrahman mengeluarkan buku sejarah yang kami maksud mula-mula dikeluarkan beliau sejarah asli yang di tulis pada kulit kayu yang sudah hitam tidak dapat dibaca  lagi, kemudian beliau mengeluarkan salinan dari Sejarah asli itu, itulah yang kami salin, lengkapnya seperti dibawah ini :
SEJARAH MOYANG UMPU JADI (SI JADI HELAU),-
Pada zaman purba kala ada seorang putri di Pagarruyung ( Sumatra Barat) bernama tuanku Gadis diam pada satu mahligai lengkap dengan inang pengasuhnya serta binatang ternaknya seperti, ayam, itik, anjing, kucing kuda, kerbau sapi dll. Yang kesemuanya itu betina. Dihalaman mahligai tuan putri itu ada sebatang kelapa yang sangat tinggi tidak ada lagi manusia yang sanggup memanjatnya. Pada suatu tengah hari Tuanku Gadis sangat ingin mau air kelapa muda. Dengan tidak diduga-duga waktu itu datang seekor tupai memanjat batang kelapa yang tinggi dihadapan mahligai Tuanku Putri itu, menjatuhkan seberapa butir kelapa muda. Tuanku Gadis menyuruh mengumpulkan kelapa-kelapa tadi. Beliau sendiri meminum airnya dan dagingnya yang muda itu. Baik inang pengasuhnya maupun semua binatang ternaknya berebutan makan kelapa-kelapa tadi, ada yang kebagian dagingnya, tempurung kulitnya, sehingga kelapa itu habis.
Tuhan berbuat sekehendaknya atas hambanya, semenjak itu baik inang pengasuh Tuan Putri itu maupun binatang ternaknya semua bunting dan Tuanku Gadis sendiri bunting juga yang kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang diberi nama Endang Tuanku (dinamai juga Tuanku Sulung.
Tuanku Sulung berputra dua orang yang masing-masing bernama tuanku, yaitu Tuanku Sulung dan Tuanku Muda. Setelah keturunan beliau berdua itu menjadi 12 orang orang laki-laki, ialah mereka mengadakan musyawarah untuk menentukan daerah kuasa masing-masing. Yang paling tua diantara mereka menetap di Pagarruyung dan yang 11 orang harus mencari daerah kuasa masing-masing. Ditempat lain. Mereka berangkat dari Pagarruyung, tidak serempak, masing-masing ada perhitungan sendiri-sendiri (hari nahas atau hari baik) sebab itu ada yang berangkat pajar Senin, petang Kamis atau lain-lain masuk rimba belantara mengadu untung. Diantara beliau-beliau itu 4 orang yang masuk daerah Sekala Berak, yaitu :
  1. Umpuh Belungguh.
  2. Umpu Benyata.
  3. Umpu Berjalan Diva.
  4. Umpu Pernong. 
Umpu Pernong menetap di Batu berak menjadi Moyang disana. Keturunan Beliau ialah Umpu Jadi di-Marga Buay Pemuka Peliung dikenal nama Beliau Si Jadi Helau (kabarnya badan beliau memang luar biasa bagus).
Tiap-tiap hari keempat Umpu itu memeriksa keadaan hutan rimba daerah itu kalau-kalau ada yang ganjil atau yang akan mengganggu kedudukan mereka.
Pada suatu dari jauh beliau-beliau itu mendengar suara orang banyak, bernyanyi beramai-ramai dengan sangat riuhnya. Segera ke-empatnya menyerbu tempat itu. Setelah orang hutan itu melihat kedatangan ke-empat Umpu itu mereka lari pontang panting ketakutan. Rupanya mereka bersuka ria menari-nari dan bernyanyi-nyanyi disitu sambil mengelilingi sepohon kayu jurak (balik) akarnya diatas dua dahannya terhujam ditanah (pohon itu bernama Sibukau) di-daerah Komering pohon itu disebut kelutum.
Salah seorang Umpu tadi memukul sebelah dari dahan yang terhujam itu keluar getah terkena ke-badannya terus jadi busuk tetapi setelah getah cabang yang lain dipukul dan getahnya kena busuk tadi segera sembuh (wad bias wad tawarna, kom). Kayu itu dipotong oleh ke-empat Moyang Itu, dijadikan pusaka dan zimat. Batangnya dibuat “papadun” sekarang masih ada disimpan dirumah Keria Ruos Marga Batuberak, sedang kayu-kayunya yang lain di-jadikan tangkal racun (banyak dipunyai oleh penduduk disana).
Waktu kami masih di-Batuberak Keria Luos ini bernama Raja Bintang Marga datang juga kepada kami membawa barang pusaka dari Moyang Umpu Jadi, berupa rebung jadi batu satu kopiah besi dan sebilah pedang. Kopiah besi pernah saya kenakan dikepala saya. Moyang Umpu Jadi meninggalkan satu pusaka abadi untuk anak cucunya sepanjang masa serumpun buluh buntu, letaknya tiada berapa jauh dari Batuberak, hanya untuk mendapatkan yang aslinya agak sulit, harus diambil malam hari yaitu malam Jum’at 14 hari bulan. Salah seorang anak cucu Umpu Jadi ini bernama Pangeran Tanumbang meninggalkan Batu Berak mencari daerah kuasa ditempat lain, beliau kemudian menetap di-Belambangan Umpu / Kota Bumi Lampung, beliau berputra 3 orang yaitu :
1.   Minak Ratu Sembahan di Belambangan Umpu
2.   Minak Sembahan Pakuan Ratu dan
3.   Minak Kiai Marga Buay Pemuka Peliung.
Berhubung isteri Minak Kiai lebih cantik dari isteri kakaknya yang tua (Minak Ratu Sembahan) dari itu kakaknya mencari jalan untuk membinasakan adiknya. Pada suatu petang dia mengumpulkan jala rambang 7 raban untuk mengajak Minak Kiai pergi menjala berperahu menuju lubuk yang banyak buaya dan banyak ikannya yaitu : Lubuk Meduk Rantau Manman. Setelah hari malam Minak Ratu Sembahan mengajak Minak Kiai menjala membawa ke 7 raban jala itu menuju lubuk tersebut. Setelah sampai ketempat itu dia mulai menebarkan jalanya pada suatu tempat yang dalam serta banyak kayunya., jalanya ditebarkannya, tepat seperti kehendaknya jala itu sangkut disuruhnya selam oleh adiknya. Adiknya sudah maklum tujuan kakanya, tetapi ia tidak pernah membantah, ia terus menyelam. Baru saja ia masuk air bertubi-tubi 6 jala yang lain ditebarkan Minak Ratu Sembahan ditempat Minak Kiay menyelam, supaya ia tidak dapat melepaskan dirinya lagi. Setelah itu Minak Ratu Sembahan segera pulang mengabarkan adiknya dimakan buaya.
Setelah tujuh malam dari kejadian itu, pada waktu tengah malam Minak Kiai kembali kekampung itu duduk digardu sambil menabuh “ginggong” (yaitu sejenis bunyi-bunyi yang terbuat dari pelepah enau). Oleh ibunya bunyi suara ginggong itu didengarnya, ia teringat bahwa hal itu hanya anaknya yang hilang itu (Minak Kiai) yang bisa berbuat begitu, istimewa pula selama anak bungsunya hilang itu, ibu tadi pernah tidur selalu menangis ingat kepada anaknya.
Dengan tergopoh-gopoh ibu tadi (Naimas Djundjung Pali) turun dari rumahnya dengan membawa lampu dian (nama lampu kecil yang dari tembaga / kuningan di-isi dengan minyak kelapa, dimasukkanya kedalam Liung (dari sinilah asalnya ada perkataan Liung yang dikemudian dirangkaikan dengan kedudukan beliau dalam Marga Buay Pemuka Peliung, yaitu sejenis keranjang kecil pakai tali yang dianyam jarang, biasanya dipakai oleh orang yang biasa menjala ikan seluang (ikan kecil-kecil) serta seekor anjing putih jantan. Setelah ibu itu sampai ditempat gardu itu dilihatnya betul orang itu anaknya terus dirangkulnya dengan tangisan diajaknya pulang kerumah, tetapi anak itu menolak ajakan ibunya itu, dengan tangis yang sangat sedih, ia mengatakan bahwa ia pulang sekedar hendak memberi tahu ibunya bahwa ia masih hidup dan pamitan kepada ibunya bahwa ia akan meninggalkan tempat itu untuk selama-lamanya. Berhubung tadi ibu tidak mau ditinggalkan anaknya, pada tengah malam itu juga mereka berangkat membawa lampu dian dan anjing putihnya.
Beberapa lama kemudian dua beranak itu sampai pada suatu dusun yang bernama Perupuk dekat Sungai Pisang diseberang dusun Pulaunegara. Kebetulan waktu itu orang-orang Perupuk selalu perang dengan suku Abung yang ada dalam Marga ini zaman dahulu Minak Kiai datang di-Perupuk membawa azimat perang apabila dusun akan dikalahkan musuh azimat itu dipasang maka dusun itu hilang (silam). Demikianlah pada suatu hari orang orang Perupuk perang dengan suku Abung, azimat itu dipercayakannya kepada seorang penjaga tapal batas. Penjaga itu mendengarkan tampik sorak dalam pertempuran itu disangkanya orang Perupuk telah kalah, sehingga azimat itu dikenakannya.
Setelah itu dusun Perupuk silam hingga sekarang (Moyang Marga Muncak Kabau menumpang diam pada daerah Marga Buai Pemuka Peliung, oleh sebab itu Marga Muncak Kabau (Buai Pemuka Bangsa Raja) aslinya : Buay Pemuka Mangsa Raja). Menurut cerita orang-orang Bantan yang pernah membuka ladang atau kebun disekitar tempat itu, kalau malam Jum’at atau 14 hari bulan kadang-kadang kedengaran orang banyak mengomong-omong atau bunyi anak-anak menangis atau bunyi kokok ayam. Mulai dari kejadian diatas beliau mendapat penghargaan luar biasa dari penduduk asli Marga Pulaunegara serta disegani orang.
Pada masa dahulu penduduk tanah Komering Ulu terdiri dari dua suku yaitu penduduk asli dan dan suku Abung, Kedua suku itu senantiasa bermusuh-musuhan selalu tempur-menempur. Hampir tiap-tiap dusun penduduk asli, dikelilingi dengan parit besar yang menjadi benteng dusun itu. di-Marga Buay Pemuka Peliung sampai sekarang parit-parit itu masih ada. Penduduk asli zaman itu satu dusun dengan dusun yang lain walaupun satu Marga,  menjadi kebangaan selalu serang menyerang, perasan tersinggung sedikit saja sudah menimbulkan pertempuran apalagi manusia zaman itu kegemarannya mau berkelahi saja. Masing-masing memahamkan ilmu tahan (ilmu kebal). Ilmu kuat diantaranya banyak yang tarak tapa didalam hutan sampai 40 hari tidak makan. Siapa yang tidak mempersiapkan diri seperti itu dengan sendirinya dianggap pengecut menjadi pelayan sikuat tadi, menjadi orang suruhan tegasnya menjadi abdi. Tikam menikam dengan keris atau tumbak lada (badik Kom) atau pedang merupakan permainan biasa, misalnya si-B selalu membawa keris, ditegur oleh si-A katanya “Ai” selalu saja kau ini membawa keris, sudahlah kerismu takkan makan orang. Karena tersinggung dengan tidak bicara lebih dulu si-B msncabut kerisnya sekuat-kuat tenaganya menikam si-A. si-A berkata; melawan kata ini. Dia tidak membalas, ia hanya menguji ilmunya saja, kalau masih merasa sakit tandanya belum masak (samad) betul, kalau sudah masak betul tikaman tadi tidak terasa lagi.
Berhubung Minak Kiai orang datangan di-Marga Pulaunegara beliau dipanggil si-Datong. Oleh karena pergaulan beliau dengan penduduk sudah semakin rapat apalagi beliau didudukan sebagai tua-tua rakyat, beliau berhasrat hendak kawin. Beliau meminang Putri Dayang Bumbun anak Pangeran Ratu Mula Jadi dusun Nikan Marga Madang Suku II. Tidak segan-segan beliau mengantar rupa persembahan kepada bakal mertuanya serta membantu rupa-rupa pekerjaan. Pada waktu Pangeran Ratu Mula Jadi mau mengatapi rumahnya dengan lalang, si-Datong mengambil lalang sepenjekalan untuk atap itu. atap tadi dibawanya naik bubungan dikenakannya. Akhirnya atap rumah itu selesai tetapi lalangnya tadi tidak habis. Akhirnya beliau kawin dengan Putri Dayang Bumbun. Oleh Pangeran Ratu Mula Jadi Putri beliau tersebut diberi barang pengantar (benatok kom.) serta tanah yang menjadi daerah Marga Pulaunegara waktu itu yang berbatas :
  1. Disebelah Timur dengan Sungai Pisang (dengan tanah lampung).
  2. Disebelh Selatan Sumber Habu ( (Wai Tiak) hilir dusun Peracak menjadi watas dengan Marga Haji (Muara Dua).
  3. Disebelah Barat dengan Sungai Gilas, watas dengan Ogan Ulu dan
  4. Disebelah Utara dengan Pulau Semun, dekat Riang Bandung menjadi watas dengan Marga Madang Suku I.
Inilah tanah Marga Buay Pemuka Peliung yang sebenar-benarnya dari zaman moyang turun temurun dari zaman kerajaan Sriwijaya.
Dari perkawinan ini beliau tidak mendapat keturunan. Kemudian beliau kawin dengan Putri Dayang Tjeritjit anak moyang dusun Banu Ayu Marga Lubuk Batang (ogan Ulu) berputra tiga orang laki-laki yaitu :
  1. Bernama Penghulu menetapkan dusun Bantan
  2. Bernama Gedung menetapkan dusun Negeri Pakuon
  3. Bernama Umpuan Ratu menetapkan Pulau Negara.
Husus Moyang Negeriagung, ialah Puarang, beliau ini bermakam di-daerah Sekala Berak, sedang isteri beliau bernama Naipurang bermakam diseberang dusun Negeri Agung. Moyang Biay Pemuka Peliung bermakam di-dusun Nikan Marga Madang Suku II dekat makam mertuanya. Makam Putri Dayan Bumbun bermakam diseberang dusun Pulaunegara dekat makam mertuanya Naiman djunjung Pali di-Semanding. Makam Putri Dayang Tjeritjit di-Banu Ayu (ogan ulu). Putra yang ketiga (Umpuan Ratu) semenjak kecil diserahkan beliau kepada Sri Sultan Sriwijaya di-Palembang untuk mencari ilmu dan pengalaman. Pada suatu kenduri besar kerajaan Mataram yaitu hendak mengawinkan anaknya. Sri Sultan Sriwijaya dapat undangn. Dalam perjalanan itu oleh Sri Sultan Sriwijaya Umpuan Ratu dibawanya serta.
Pada zaman dahulu tiap-tiap kenduri besar diadakan aduan (pertandingan), bukan saja binatang seperti, ayam, kerbau, puyuh dan lain-lain. Yang diadu, tetapi manusia diadu juga. Tugas menghadi musuh oleh Sri Sultan Sriwijaya diserahkan kepada Umpuan ratu.
Mula-mula mengadu kerbau, Sriwijaya dengan Sultan lain. Sebelah lawan menyediakan kerbau karai yang panjang tanduknya dan yang gemuk badanya. Tanduknya selalu diruncing diusap dengan minyak supaya mengkilat. Sedang Umpuan ratu menyediakan anak kerbau yang masih menyusu pada induknya. Dua tiga hari lagi pertandingan akan dilansungkan oleh Umpuan Ratu anak kerbau tadi dikurangi makan minumnya agar ia lapar. Setelah sampai jam pertandingan akan dimulai, pihak lawan sudah masuk gelanggang. Dengan kerbaunya, berdiri ditengah-tengah lapangan dengan gagahnya. Umpuan Ratu mengiringi anak kerbaunya masuk gelanggang dihadapan lawan. Berhubung anak kerbau itu lapar dan haus, setelah ia melihat dihadapanya ada kerbau besar yang disangka induknya, ia berlari menyondol antara paha kerbau besar itu, mungkin karena kegelian, kerbau karai tadi berlari kesana kemari, akhirnya keluar gelanggang.
Dengan tepuk sorak sorai penonton mengatakan lawan tadi kalah.
Pertandingan kedua mengadu orang dengan orang dalam lingkaran stukal sapuk. Kedua orang aduan itu duduk dalam seutas lingkaran sapuk itu masing-masing memegang senjatanya. Umpuan ratu membawa sebilah keris yang sarungnya 1 depa dan 1 kilan, tetapi mata kerisnya 1 kilan. Sapuk yaitu benang kapas yang dibuat petani sendiri dari kapas untuk bahan tenunan digulung, kalau gulungan itu dibentangkan garis tengahnya ± 1 ½ m itu hanya satu kilan). Sebelah lawan senjata keris juga yang panjang sarungnya sama dengan panjang keris Umpuan Ratu tetapi matanya sepanjang itu juga. Setelah pertandingan dimulai pihak lawan mencabut mata kerisnya yang panjangnya menjadi lebih dari dua depa itu, dengan tangkas Umpuan Ratu mencabut mata kerisnya yang hanya satu kilan itu langsung menusuk perut lawanya sehingga mati. Dengan sendirinya dalam pertandingan kedua ini Sriwijaya menang pula.
Setelah kenduri besar itu masing-masing tamu mau kembali ketempat asalnya, Sultan Mataram membagi-bagikan hadiahnya. Untuk pribadi Umpuan Ratu 1 pasang berukir untu nisan beliau setelah beliau wafat. Batu inilah nisan Umpuan Ratu sampai sekarang, dipekuburan Candi balang di-Pulau Negara, lain dari itu dapat pula sebilah pedang, sebuah tumbak, sebilah keris, 1 baju rambut, 2 meriam kecil dari gangsa (kuningan) dan 1 kopiah besi. Barang-barang ini sampai sekarang ada di-Pulaunegara. Setelah sampai di-Palembang Umpuan Ratu dapat pula hadiah dari Sri Sultan Sriwijaya yaitu satu pasang gelang kana (gelang siku mas, 1 pasang tanggai mas, 1 sisir emas serta pakaian yang lain-lain, tetapi barang ini sudah tidak ada lagi habis terbakar kira-kira 100 tahun yang lampau yaitu ketika dusun pulau Negara terbakar habis, sebuah rumah pun tidak kecuali. Juga Umpuan Ratu diangkat Sri Sultan menjadi Pasirah Marga Buay Pemuka peliung dengan gelar pangeran Umpuan Ratu. Beliaulah Pasirah pertama di-Marga Buay Pemuka Peliung berkedudukan di-Marga Buay Pemuka Peliung berkedudukan di-Pulaunegara dengan tapal batas :
–      Disebelah hilir : Dengan Marga Rasuan
–      Disebelah hulu : Dengan simbor Habu Marga Haji.
Umpuan Ratu diberi juga oleh Sri Sultan Sriwijaya kedudukan yaitu gelaran nama kampung dan nama kuburan, pangkal gelar, atau nama-nama kampung dan lain-lain itu haru “DALOM” umpama “DALOM PENUTUP”, “DALAM SANGRATI” atau lain-lain, rumah dalom kampung dalom, pesiban dalom dan lain-lain, dan tempat Pangeran Umpuan Ratu dimakamkan bernama candi Baling yaitu, sama dengan tanah tempat makam Sri Sultan sendiri. Juga Pangeran Umpuan ratu diberi Sri Sultan “ADAT LAMPUNG” yang susunannya seperti dibawah ini :
1     Raja adat (Pasirah adat), kalau waktu kenduri besar pakainya, semua putih, pakaian selendang putih, pakain punduk emas, kepala (hulu) keris itu dibungkus dengan sapu tangan putih. Dalam upacara pakai kandang ralang jelema (orang banyak berbaris keliling kedua belah tangan dibentangkan dan ujung jari tangan bersambung dengan unjung jari teman, sehingga merupakan lingkaran besar. Jempama jelema yaitu dua orang laki-laki yang brpakaian setengah tiang, pakai ikat kepala (destar), tangan kanan masing-masingnya memegangsiku tangan kiri, ujumng jari tangan kiri masing-masing memegang siku kawannya merupakan usungan bagi raja adapt itu pakai 12 tombak (linggis) dan 12 pedang (6 sebelah kiri dan 6 sebelah kanan), pakai paying kuning (payung adat), tiap-tiap kenduri besar istimewa mengantenkan payung ini jangan ketinggalan, gamelan jarang, gajah merom. Pada malam canggot agung (istilah sekarang malam resepsi) Raja adapt ini duduk ditengah-tengah balai dihadapi para tetamu. Ia atau anaknya menari pakai 12 pedang 12 linggis dicabut mengapit dari kiri kanan serta pakai payung kuning, menari diatas kepala jelema (satu orang disuruh mengguling dihadapan Raja Adat itu menari diselimuti dengan dasar putih setelah selesai menari lembar kain putih milik orang itu (sebagai upah). Selesai Raja Adat menari barulah tari Sabai (tari besan) yang didahului dengan pisaan-pisaan yang tujuannya besan pehak perempuan menyerahkan anaknya kepada besan pehak laki-laki dan sebaliknya.
Setelah tari-tarian besan barulah pemberian gelar kepada kedua mempelai itu. kalau yang kawin itu anak Raja Adat ia bebas memilih gelar umpama yang berpangkal, Dalom, Ratu, Sutan atau Raden.
     Sepanjang adapt Lampung anak Raja Adat harus kawin dengan anak Raja Adat, yang jujurnya 24 ratus uang dulu apabila anaknya kawin dengan anak bawahannya Raja Adat harus membersihkan kedudukannya, yaitu memotong kerbau disaksikan oleh 4 Raja Adat dari daerah lain menjadi 5 Raja Adat (lima sumbai) barulah syah.
1.   Pampang penyambuk (Pembarob Adat).
Pakaiannya seperti pakai Raja Adat. Dalam upacara pakai lelurung buntu sekayu kain putih dibentang mengelilinginya, senjata 6 pedang dan 6 tombak, jempana putih mulus tidak pakai payung kuning, gamelan seperti Raja Adat. Dalam perkawinan jujur 12 ratus uang dulu, dibalai disamping kanan Raja Adat.
2.   Pangkat Proatin Adat.
     Dalam upacara pakai kopiah pandan putih, pakai selendang mayang dari kemban berambu putih, tidak pakai baju jempana liplip cendai putih. Tabuhannya gamelang ramik (biasa) dari seluruh gamelan.
     Dalam perkawinan jujr 600 uang dulu. Dibalai duduk disebelah kiri Pampang (Raja Adat).
1     Injak Sanak Pengarop,
     Dalam upacara, kopiah dililit pandan, tidak pakai baju, selendang kain cindai, gamelan ramik (semua tabuhan dibunyikan).
     Dalam perkawinan jujur 240 uang dulu
1     Injak Suku,
     Dalam upacara kopiah pakai pandan, selendang kain cindai, tidak pakai baju, tidak pakai cempana (jalan kaki, gamelan kelintang arak-arak (kelintang satu) ditabuh kerap / rapat.
Tiap-tiap penduduk Pulaunegara mengadakan kenduri besar seperti hari perkawinan atau yang sipatnya resmi seperti pelantikan Kepala Marga atau lain-lain diadakan letupan senapang kecepek tanpa pelor, demikian pula meriam kecil pusaka dari Puyang Umpuan Ratu yang disebut dalam sejarah ini selalu diletupkan juga tampa pelor, biasanya tiap-tiap meriam kecil itu diletupkan sekurang-kurangnya timbul gerimis kecil. Raja Adat boleh menjual adat kependuduk asli dalam marganya asal saja orang itu sanggup mentaati aturan-aturan adat, ia harus membayar harga adapt yang dimintanya seperti pada no.2 s/d no.5. raja Adat harus meresmikan kepada seluruh anggota (keluarga) adapt dalam marga itu dan membayar uangnya.
“Aturan Adat”
Kawin atau menyunat anak harus kenduri sesuai dengan Adat orang itu. kalu belum ada kenduri penganten laki-laki perempuan belum boleh diberi gelaran, serta adat orang itu di-schort selama ia belum memenuhi kewajibannya. Kalau kematian juga membayar harga adatnya kepada Raja adat dan uang ini dibagi kepada keluarga adat. Menurut adat anak orang ada adat Lampung harus kawin dengan anak orang yang setingkat dengan adatnya serta musti kenduri.
Inilah yang menyebabkan zaman dahulu itu bujang atau gadis sampai tua banyak yang tidak kawin dan inilah pula yang menyebabkan orang-orang banyak belahan, umpama si-A mau mendapat mantu tetapi onskos tidak ada, ia pergi ke-kisam pinjam 1000 uang dulu, sesudah sehari perkawinan anaknya maka si-A seberanak pergi ke-kisam membuatkan orang yang punya uang kebun kopi seperti 2000 batang dalam jangka 4 tahun misalnya.
Anak gadis dengan anak bujang tunggal kampung tidak berpacar-pacaran apalagi mau kawin, kalau kejadian juga maka kedua belah pehak membasuh kampung dengan didenda memotong seekor kambing, untuk mengundang penduduk kampung itu. begitu pula kalau ada bujang dari dusun lain, tinggal menumpang pada salah satu rumah pada suatu kampung dalam dusun itu harus mematuhi peraturan ini.
Adat Perkawinan dalam Marga Buay Pemuka Peliung,-
1     Rasan Tua (adat terang).
Orang tua laki-laki perempuan menghadap orang tua perempuan menyatakan hasratnya dengan sopan santun membawa satu sani (satu baki) dodol atau wajik.
Nerangko Pengatu.
Orang tua bujang membuat juadah dodol dan wajik 3 baka mewakilkan Penggawa Kampungnya untuk menghadap orang tua gadis yang diwakili oleh penggawa kampung itu.
Neranjak.
Orang tua bujang membuat 5 baki dodol dan wajik menyuruh orang kampungnya untuk menghadap orang tua gadis yang dihadiri oleh penduduk kampungnya untuk melayani kedatangan rombongan bujang tadi.
Kilu Kasih (mintak keputusan).
Orang tua bujang membuat 7 baki (sani) dodol dan wajik diiringi orang banyak menghadap kepada keluarga besar serta seluruh famili gadis.
Biasanya keputusan ini dinyatakan orang tua gadis setelah 2 atau 3 hari kemudian, oleh pribadi masing-masing kenyataannya akhir-akhir ini diputuskan waktu pertemuan itu juga baik mengenai waktu perkawinan dan cara pelaksanaan serta uang jujur yang diminta.
Nyungsung Penganten
Setelah hari perkawinan diresmokan, setelah pihak penganten peria menyiapkan apa-apa yang telah menjadi keputusan itu serta menyediakan 12 baka juadah (6 dodol dan 6 wajik), 2 dulang beras serta 2 telor itik tiap-tiap dulang, dua dulang ketan juga pakai telor itik, 1 dulang berisi sirih pinang, 2 atau lebih kelapa yang telah dicukur serta dihiasi (diteraju), 1 dulang berisi seperangkatan pakaian penganten perempuan serta 1 dulang kecil tempat uang jujur yang telah ditetapkan serta 1 tepak (kalau ada tepak mas atau tepak perak), ditutup dengan kain putih untuk pembicara yang akan diserahkannya paa pembicara sebelah penganten perempuan. Mulai dari nerangko pengatu s/d kilu kasih harus juga pakai satu dulang beradan satu dulang ketan diantara satu butir telor.
2.    Semenda (diambil anak).
     a. Semenda lepas seumur hidup.
          Kalau seorang ayah tidak mempunyai anak laki-laki maka anaknya perempuan diambilkannya untuk selama-lamanya.
     b. Semenda Ngandam
          seorang ayah mempunyai seorang anak perempuan telah dewasa sedang anaknya laki-laki masih kecil, maka anaknya perempuan itu diambilkannya seorang bujang yang harus tinggal dengan dia sampai anaknya laki-laki tadi kawin.
     c. Tangkap Batin (diluar kesukaan orang tua).
          Seorang bujang dan seorang gadis sama-sama naik rumah pemerintah setempat mintak dikawinkan.
3.    Sebambangan atau Bergubalan
Bujang dan gadias sama-sama melarikan diri, diantaranya ada yang sampai keluar pulau seperti ketanah jawa mereka pulang setelah kawin.
Kenduri menurut Adat Lampung.
Seperti yang telah saya uraikan diatas, mulai dari INJAK RAJA ADAT sampai kepada INJAK SUKU begitulah dilakukan dalam marga ini.
Menurut hasil pertanyaan saya kepada almarhum Kiai Said Zubair dusun Adumanis dan almarhum Haji Habibullah dusun Menanga Besar bahwa Semendawai Suku I sampai Semendawai SUku III berasal keturunan dari, 1. Sekala Berak, 2. Bugis dan 3. Arab.
Marga-marga yang lain di-komering Ulu berasal bahagian terbesar berasal dari daerah Sekala Berak.
Marga Bungamayang dan dusun Jagaraga banyak berasal dari marga Aji. (Muaradua).
Bangsa Bugis banyak di-dusun Gunung Batu dan Campang Tiga.
Dalam sejarah ini tentulah banyak terdapat lebih atau kurang dari yang sebenarnya namun sebagai basis, inilah hasil yang saya dapat dari orang-orang tua yang waktu saya masih muda, yang sekarang semua beliau-beliau itu telah lama pulang kerahmatulloh.
Sebagai penutup penuh harapan saya kepada angkatan muda yang menyalin sejarah ini, agar dapat mencurahkan perhatiannya dalam meneliti kekurangan-kekurangan atau kejanggalan-kejanggalan baik dalam susunan kalimat-kalimatnya atau susunan kata-katanya supaya sejarah ini lebih sempurna untuk dipusakai oleh putra / putri daerah komering ulu.
Setahu saya sejarah yang lebih lengkap dari ini tidak dapat digali lagi lebih mendetil kecuali oleh yang pendidikannya / tugasnya khusus untuk itu, sebab sangat sedikit bukti-bukti yang masih ada. Selainnya telah hilang/habis berhubung lamanya disimpan atau terbakar.
      Pulau Negara, 21 Januari  1970
Penyusun,
dto.
(Hi. Muhammad Ali)
Disalin dan ketik sesuai dengan bunyi aslinya, diperbanyak dengan harapan akan bermanfaat bagi pembaca, terutama bagi generasi muda/mudi daerah Komring Ulu,
Pulaunegara tgl  18 April 2000
Disalin dan di ketik anak ke-empat
Dari penyusun,
(Masyurdin Ali)
Glr. Depati Kesuma Dharma.
Sumber : http://masyarakat-komering.blogspot.com/2014/03/sejarah-marga-buay-pemuka-peliung.html